//
you're reading...
info batik

men-SNI-kan batik, perlukah?

priiiit!!!!

“selamat pagi pak, kok helmnya tidak ada sni nya? anda melanggar peraturan dan denda sebesar Rp 200.000”

Huf,, kata-kata itu senantiasa teringat ketika melintas di pertigaan fly over dekat terminal depok dan saya harap ini menjadi pengalaman terakhir dengan pelanggaran hukum.

Semenjak diperlakukan status SNI, semua barang harus berlabel dari sekedar peralatan memasak dan sebagainya. Pelabelan tersebut dilakukan untuk mengatasi persaingan bebas akibat pemberlakuan AFTA. Perdagangan bebas tersebut mengakibatkan arus barang impor melebihi kuota ekspor.  Barang barang impor berupa barang elektronik, makanan dan sebagainya, termasuk adanya serangan batik cina.

Sebetulnya batik buatan negeri memiliki  kelebihan daripada batik cina yang tidak lebih seperti kain sablon biasa dengan harga murah dan tidak ada nilai seni dari pembuatannya. Namun meskipun demikian persaingan bebas menuntuk proses efisiensi, lingkungan dan kualitas sehingga perlu juga antisipasi untuk mempertahankan warisan budaya yang telah ditetapkan oleh UNESCCO.

Salah satu langkah yang dilakukan oleh menteri perdagangan kita, Mari Elka Pangestu adalah men-SNI-kan batik dengan penerapan label tiap jenis batik untuk membedakan batik tulis, cap, combinasi dan printing. Pelabelan tersebut dilakukan untuk melindungi konsumen dalam memilih dan menggunakan batik. Namun untuk menetapkan standar tersebut tidaklah mudah, karena pembuatan batik memiliki metode beragam dan tentunya pelabelan tersebut memakan ongkos tersendiri pada neraca produksi. Hingga kini rencana tersebut belum dapat direalisasikan.

Batik merupakan prestasi yang luar biasa dari bangsa Indonesia apalagi dengan diakuinya batik di dunia. Namun itu perlu dipertahankan karena ada beberapa negara berusaha mengganggu penetapan UNESCO tersebut tentang batik dengan beragam klaim dan isu. Termasuk dengan permasalahan pencemaran lingkungan akibat bahan pewarnaan batik.

Batik harus memiliki ciri yang berbeda dengan jenis kain lainnya yang dapat diterima dalam iklim persaingan bebas. Batik telah disahkan sebagai warisan budaya Indonesia. Pengesahan tersebut akan semakin kuat dengan adanya pendefinisan batik yang mampu memenuhi tuntutan dalam persaingan bebas seperti kualitas dan lingkungan.

Pelabelan “SNI”an batik alangkah baiknya jika adanya penjabaran standar mengenai karya seni batik yang menjadi warisan budaya Indonesia asli. Sehingga produksi batik menjadi lebih ditermia dunia dan memilki ciri khas berbeda dan dapat dibanggakan oleh Indonesia di mata internasional. Untuk membuat hal tersebut, akan lebih bijak dan objektif jika melibatkan para pengrajin batik dan beragam elemen yang bersinggungan sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih komprehensif.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

favorit

kalender

July 2010
M T W T F S S
« Feb   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

blog stats

  • 223,315 hits
%d bloggers like this: