Arsip untuk April 17, 2008

Sejarah dan Perkembangan Seni Batik Indonesia (part3)habis..

Dari sumber-sumber yang didapat maka dapat disimpulkan bahwa:

Keyakinan Rouffaer seperti pada a dan b kurang dapat diterima, karena digambarkan dari th.406 AD sampai dengan Kerajaan Daha di Kediri (1100-1222 AD), bangsa Hindu menjajah Indonesia termasuk penjajahan kebudayaan (dalam hal ini seni batik), seolah-olah tidak ada kebebasan penciptaan dan karya budaya. Pendapat ini pertama bertentangan dengan pendapat ahli sejarah Prof. Dr.R.M. Sutjipto Wirosuparto seperti ynag tercantum di poin 1.

Kedua pada kenyataannyakalau seni batik langsung dipengaruhi Kalinga-Koromandel di India tidak terdapat motif-motif kawung. Lereng, Ceplok dan Cinden sedang di Indonesia motif-motif tersebut muncul dengan jelas antara abad 9 – 14

Ketiga, bahwa peristiwa atau proses “wax-resist technique” ini tidak terdapat di India saja melainkanterdapat pula di Negara-negara lain dengan data waktu seperti dikemukakan pada no 2, hasil survey design batik oleh Prof.Dr.Alfred Steinmann. Sedangkan hubungan Indonesia-Tiongkok pada zaman Seriwijaya erat sekali sehingga ada kemungkinan pengaruh timbak balik mengenai wax-resist technique dengan Tiongkok.

Keempat, perkembangan batik design di Indoensia samapi pada kesempurnaan pada abad antara 14-15 sedang perkembangan batik di India mencapai kesempurnaan antara abad 17-18 jadi perkembangan batik secara wax-resist technique lebih dahulu waktunya batik Indonesia.

Kelima, bahwa perkembangan batik Indonesia diliputi oleh kesaktian budaya, ini berarti hampir semua karya budaya tidak mempunyai fungsi ekonomis, melainkan berfungsi sebgai peranti untuk menghormati sang sakti. Masalah ini dilupakan oleh para penyelidik sehingga dianggap batik Indonesiaberkembang setelah mempunyai fungsi ekonomis yaitu sesudah abad 18. Jadi anggapan bahwa batik Indonesia terbelakang dari batik India sehingga diambil kesimpulan bahwa batik Indonesia berasal dari Kalinga-Koromandel India adalah tidak tepat.

Perhatikan pendapat Dr. J. Brandes yang sangat berhati-hati seperti pada nomor 4 bagian ini. Suvey design batik oleh Prof.Dr. Alfred Steinmann merupakan angina baru dalam pengungkapan sejarah asal mulanya batik Indonesia, akan seperti halnya mengenai masalah fungsi candi Indonesia semula para sarjana penyelidik menyangka bahwa candi-candi di Indonesia berfungsi sebagai kuil tempat pemujaan analogi dengan candi-candi di India, tetapi ternyata kemudian hasil penelitian berbeda yakni berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu jenazah atau sebagai makam.

Mudah-mudahan pendapat baru atau pembeulan bahwa bati Indonesia tidak berasal dari Kalinga-Koromandel India dapat dibuktikan dan diyakini dengan catatan bahwa daerah Indonesia yang tidak terkena pengaruh Hindu seperti Toraja Sulawesi dulu pernah berkembang batik yang dibuat dengan teknik wax-resist dyeing.

Komentar (1) »

Sejarah dan Perkembangan Seni Batik Indonesia (part2)

  1. Mengenai hubungan Indonesia dengan China, terdapat dalam naskah prasaran Prof.M.Yamin pada kongres Ilmu Pengetahuan Nasional ke II, MIPI Tahun 1962 yang berjudul: Pertulisan Seriwijaya di kota Kanton (RRC) dari permulaan abad XI. Hal 8 dan 9 : “ dan pada ketika itu barang-barang tanda mata yang dibawa oleh para utusan Seriwijaya adalah Kemenyan, Gading, Air Mawar, Akar bahar, Cula Badak, Kristal dan lain-lain dan pemulangan hadiah dari Tionghoa kebanyakan terdiri dari emas, perak, kain sutera, barang tembikar, barang emas dan perak, benang sutera, pelana dan lain sebagainya”

“ Bila kita selidiki bahan-bahan sejarah pada zaman dinasti Sung, sebelum permulaan dinasti Sung Kaisar Sung Tai-tju (960 M), sampai Sung Ing-tjung antara tahun tjeping (1064-1067 M), Datu Seriwijaya, Ti-hua-tji-lo, telah mengirim saudaranya, The-lo-lo, sebagai utusan ketiongkok untuk mempersembahkan tanda-mata . Seriwijaya telah mengirim utusannya ke Tiongkok sudah lebih dari 10 kali, sedangkan saudagar yang dating membawa barang dagangan tidak terhitung banyaknya dan ketika itu saudagar Tiongkok yang singgah di Seriwijaya pun tidak kurang jumlahnya”.

  1. Mengenai pendapat tentang batik dan Pengaruh Hindu, Japer dalam buku De Batik Kunst (III), Mengutip pendapat de Javanen deze kunt van de Hindoes zouden hebben geleerd, is nog nooit door iemand berweerd”.
  2. G.P.Rouffaer dalam bukunya De batik-Kunst, Mengutarakan pendapatnya sebgai berikut
  1. asal mulanya batik jawa adalah dari luar, dibawa pertama oleh orang Kalinga dan Koromandel, Hindoe dimana permulaan sebagai pedagang, kemudian sebagai imigran-kolonisator sejak kurang lebih 400 AD, mulai mempengaruhi di Jawa
  2. perkembangan proses-lilin ( was prosede, wax-resist technique)dari Kalingga-Koromandel berjalan sampai pada periode Hindoe terakhir, yaitu zaman kerajan Daha di Kediri (lk 1100 – 1222 AD)
  3. Pada lk. 1400 AD, mulai terjadi perubahan dan pada lk. 1518 sudah meluas pengaruh islam di jawa, akibatnya perkembangan Batik Jawa menjadi bebas dan berdiri sendiri, peralihan jawa menjadi seni kerajinan, dengan kata lain sebagai langkah permulaan bahwa batik Jawa menjadi seperti keadaan sekarang ini coraknya bila dibandingkan secara analogi dengan seni kerajinan lama dari Pantai Selatan India pada lk. 1500 AD, di bawah pengaruh penganut Muhammad mulai ada perubahan terutama di Jawa Tengah.
  4. Pada perkembangan lebih lanjut di Jawa setelah ada pergantian pengaruh, seni batik jawa lebih ditekuni lukisannya sehingga lambat laun sampai abad 18-19 lebih dipelajari segi tekniknya dan mengalami kemajuan, mencapai puncaknya terutama di Jawa Tengah, seperti sebagaimana sempai sekarang ini, terkenal sebagai daerah batik terbaik karena kemampuan dan kekuatan orang jawa sendiri.
  5. Ciri umum motif batik jawa dan tipe ornament-ornamen jawa ada kesamaan, ini karena ada keadaan bebas berdiri sejak 1500 AD, Di samping itu pada perjalanan perubahan kadan kembali sampai th 1275 AD.

Komentar bertahan »

Sejarah dan Perkembangan Seni Batik Indonesia

Sampai sekarang ini masih sering ditanyakan darimana asal mula dan sejarah Batik Indonesia. Bagi orang yang pernah membaca beberapa buku tentang batik, dapat disimpulkan bahwa batik Indonesia berasal dari India. Tetapi para ahli Sejarah Kebudayaan, ahli Etnologi, alhi Purbakala dan Kebudayaan kemudian tidak puas atau meragukan jawaban di atas setelah adanya penelitian-penelitian lebih lanjut.

Dalam kesempatan ini, saya akan memberikan beberapa gambaran mengenai bagaimana asal mula dan sejarah perkembangan batik di Indonesia berdasarkan beberapa sumber dan pendapat para ahli. Untuk membuka tabir gelap tersebut, inilah pendapat para ahli mengenai perkembangan batik:

  1. dari Buku Bunga Rampai Sejarah Budaya Indonesia, Karangan Prof.Dr.R.M.Sutjipto Wirjosuparto, Jembatan Jakarta 1964 halaman 4 :

“ Bangsa Indonesia sebelum bertemu dengan kebudayan India telah menganal aturan-aturan untuk menyususun syair, mengenal teknik untuk membuat kain batik, mengenal industri logam, penataan padi di sawah dengan jalan pengairan dan suatu pemerintahan yg teratur”

Mengenai perkembangan pengaruh kesenian India di Indonesia, pada halaman 11 terdapat penegasan sebagai berikut :

“ Yang mengembangkan kesenian India di Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri. Jadi yang memperkaya kesenian Indonesia adalah orang-orang Indonesia yang telah hidup dan belajar di India untuk beberapa waktu. Dari keterngan – keterangan tersebut telah jelas, bahwa bangsa Indonesia sendirilah yang menciptakan kesenian baru di Indonesia. Ini dibuktkan oleh bangunan-bangunan Borobudur, Prambanan dan sebagainya.

  1. Dr. Alfred Steinmann (professor Ethnologi universitas Zurich), Batik, A survey of Batik Design penerbit F, Lewis Publisher Lemitted, 1958
  1. Pada zaman T’ang Dinasti di China (620-907)raja China tersebut sangant tertrik dengan Batik, Menyuruh alhi seninya berkeliling mempelajari batik ke Balkhan, Karakorum, dan Turkestan Timur.
  2. Menurut pendapat Roufear( sarjana Belanda), bahwa batik Indonesia berasal dari India selatan. Pendapat ini berdasarkan lukisan lilin atau wax-resist, tidak memperhatikan perbandingan design dan waktu berkembangnya peristiwa pada masing-masing tempat.
  3. Pada tahun 1516 di Palikat dan Gujarat dari Pantai Utara Malabar ( India ), dibuat sejenis kain batik secara lukisan lilin. Kemudian kain ini berkembang dan banyak di pasarkan di Malaya dengan sebuatan kain Palekat.
  4. Pada abad 17- 19 batik dari India Selatan mencapai puncak perkembangannya. Kain batik dari Dacca ini dibuat secara wax-resist dikombinasi dengan lukisan warna
  5. Diperbandingkan desain batik dari berbagai Negara pada umumnya bermotif Geometris, Batik di Indonesia bermotif lebih tinggi, kecuali motif geometris terdapat motif-motif yang lain dan banyak variasinya.
  6. Batik-batik dari Negara lain dapat disebutkan:

- Batik Yapan : berkembang pada dinasti Nara sampai abad pertengahan, kemudian menghilang. Prosesnya menggunakan car wax-resist dibuat secara painting dan wooden stencil. Batik ini disebut “ro-kechi”. Cara lain dibuat secara pecahan Wonogiren yang disebut “katanori”

- Batik China, dibuat pada dinasti T’ang secara Wax-resist yang disebut dengan “Miao”

- Batik dari Bangkok juga sema cam Wax-resist yang disebut “Phanung”

- Batik Rusia (Turkestan Timur) dibuat secara wax-resist yang disebut “Bokhara”

  1. Berdasarkan perbandingan desain dan memperhatikan waktu mulainya perkembangan setempat, Batik India baru perkembang pada akhir abad 17. contoh kain batik yang dikatakan batik koromandel yang didapatkan di Minahasa, bermotif Tumpal. Dsedangkan di India dalam seni ragam hias tidak terdapat Tumpal. Kalau diperhatikan, motif batik Koromandel yang sampai di Aceh dan Pinang, tidak bermotif tumpal dan motif serta ornamen dan isenya sangat berbeda dengan batik Indonesia…..

Komentar (1) »