Arsip untuk April 15, 2008

PENGEMBANGAN BATIK TERKENDALA TEKNOLOGI

21 Agustus 2007

Jakarta, 21/8/2007, (Kominfo-Newsroom) – Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengemukakan, pengembangan batik sebagai ikon nasional dihadapkan pada berbagai permasalahan dan tantangan, diantaranya dari sisi teknologi dan masih sangat terbatasnya generasi pembatik usia muda.

”Para industri batik umumnya belum melakukan perbaikan sistem dan teknik produksi yang lebih produktif agar mutunya sama untuk setiap produk batik yang dihasilkan,” kata Menperin Fahmi Idris pada pembukaan Pameran, Penjualan dan Pelatihan Batik, di Jakarta, Selasa (21/8).

Kendala lain yang dihadapi diantaranya pemakaian zat warna alam yang masih belum tersosialisasikan secara luas, disamping masalah penanganan limbah batik yang juga belum dilakukan secara benar.

”Selain itu, generasi pembatik usia muda masih sangat terbatas, karena itu diperlukan upaya khusus untuk menggugah minat kalangan muda terjun ke usaha batik,” tambahnya.

Menteri juga mengatakan, kendala lain yang dihadapi yakni, ketersediaan bahan baku, kain sutera terutama yang dibuat dengan ATBM jumlahnya masih belum dapat memenuhi permintaan pasar. Selain itu serat dan benang sutera umumnya masih impor.

Sementara dalam bidang pemasaran terkendala pada terbatasnya akses informasi, serta adanya tantangan dari negara pesaing yang semakin meningkat, diantaranya dari Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Afrika Selatan dan Polandia.

“Indonesia juga belum fokus untuk mengangkat batik Indonesia sebagai High Fashion dunia, juga dari sisi perlindungan hak kekayaan intelektual atas batik masih belum dilaksanakan secara maksimal,” katanya.

Fahmi Idris menegaskan, saat ini Departemen Perindustrian bekerjasama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) serta lembaga terkait lainnya terus berupaya mengembangkan industri batik di Indonesia juga dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi tersebut.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak para perajin batik untuk menumbuhkembangkan industri batik di Indonesia secara lebih luas dan mengembangkan batik untuk aplikasi di era modern, untuk produk-produk seperti fashion, pelengkap interior dan eksterior ruangan. (T. Jul/Ef/toeb/b)

Komentar bertahan »

Lomba Rancang Busana Batik 2008: Kaya Ide Kreatif

Selasa, 22 Januari 2008 | 01:06 WIB

JAKARTA, SENIN – Sepuluh desainer muda menggelar rancangan mereka dalam final Lomba Rancang Busana Batik (LRBB) 2008 yang diselenggarakan Majalah PRODO di Hotel Mulia Jakarta, Senin (21/1) malam.

Pamela Bethia, finalis asal Jakarta Utara, dengan tema Patchwork Land, mampu menyusun potongan-potongan kain batik menjadi gaun batik yang menawan. Ia mengaku ide ini muncul ketika melihat neneknya menambal kain batik yang dikenakannya karena sobek.

Lain lagi bagi Lulu Lutfi Labibi, finalis asal Yogyakarta. Ia lebih memilih corak kontemporer sebagai media untuk menyalurkan idenya membuat karya batik dengan tema Urban Batik yang cocok dikenakan bagi kaum muda yang dinamis.

LRBB 2008 diselenggarakan untuk mengusung kembali batik sebagai warisan budaya agar terus mendapat apresiasi positif dari masyarakat. Dalam lomba ini Abdulrahman, finalis asal Jakarta Utara, tampil sebagai juara pertama menyisihkan sembilan finalis lainnya. (KP)

selamat!! selamat!!!

Komentar bertahan »

Bicara Lingkungan Hidup Lewat Busana Batik

JAKARTA, JUMAT – Apa hubungan antara persoalan pemanasan global (global warming) dengan busana batik? Abdulrahman Arif (38), Juara I Lomba Rancang Busana Batik 2008 (LRBB 2008) menggambarkannya lewat karyanya.

Ecology, itulah tema desain Arif untuk LRBB 2008, yang pergelarannya baru diselenggarakan Senin lalu (21/1) di Jakarta. Ia memilih tema tersebut karena dunia kini sedang menghadapi persoalan pemanasan global. “Saya ingin batik pada busana yang saya desain bisa jadi media untuk menyampaikan pesan. Batik kan memang memiliki message (pesan). Dengan desain busana yang saya bikin, saya ingin batik menyampaikan pesan tentang lingkungan hidup,” sambungnya tentang pemilihan tema itu. “Saya ingin batik bisa menimbulkan kesadaran kita untuk memelihara lingkungan hidup, supaya hidup kita nyaman,” tambahnya.

Sesuai dengan tema tersebut sekaligus trend warna dalam fashion untuk 2008, Arif–yang pernah menempuh pendidikan desain grafis di Universitas Trisakti, Jakarta–menggunakan warna hijau, sebut saja olive green dan grass green. “Misalnya, gaun hijau polos, saya padu dengan cape dari batik hijau,” contohnya. “Itu juga untuk menggambarkan bahwa busana batik enggak harus 100 persen batik dari atas sampai bawah. Bahkan, bisa juga busana batik dipadu dengan busana merk internasional,” lanjutnya. “Bagi mereka yang baru mencoba, pakai busana batik dari atas sampai bawah terlalu ngagetin,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk siluet, Arif, yang pernah pula menimba ilmu di sekolah mode ESMOD Jakarta, memilih yang lebar (volume). “Siluet volume masih trend di 2008,” katanya. “Tapi, siluet volume itu bisa dipadu padan dengan siluet slim (pensil),” lanjutnya. “Misalnya, baju dengan siluet lebar bisa dipadu padan dengan cigarette pants,” katanya lagi.

Untuk pelengkap busana batik karyanya, Arif, yang pernah magang di Ted Lapidus, Paris (Prancis), membebaskan si pemakai mengenakan sepatu platform atau stiletto. “Dua-duanya masih in di 2008,” ujarnya. Tapi, untuk aksesori, “Lebih baik enggak usah pakai. Atau, kalaupun pakai, minimalis saja. Saya ingin batik menonjol dan bicara apa adanya,” tekannya. Jumat, 25 Januari 2008 | 17:49 WIB

Komentar (1) »