Batik Pukau Wisman Korea

batik tenyata tetap memiliki nama!!!
lihat aja rtikel dibawah ini, kalao ternyata peminat batik itu tidak hanya kalangan sendiri lho..
ternyata untuk kalangan orang asing, batik memiliki tempat tersendiri, baca aja…
artikel ini diambil dari kompas.
Sabtu, 6 September 2008 | 17:08 WIB

BATAM, SABTU–Produk khas Indonesiia batik yang dipamerkan dalam The Legendcy of Indonesia Exotic tampak memukai wisatawan mancanegara (wisman) asal Korea. “Luar biasa, unik sekali,” kata wisatawan Korea, Wong An, di Batam, Sabtu.

Ia mengagumi paduan modern dan tradisional dalam model batik. “Model baju modern, tapi motifnya sangat tradisional,” kata perempuan yang membeli dua baju dan sepasang sandal batik.

Senada dengan Wong, warga Korea lain, Robert mengagumi batik karena ringan dipakai. “Tradisional, tapi sangat santai. Ringan sekali,” katanya.

Sementara itu, wisatawan asal Norwegia, Michael Lords, mengatakan tertarik dengan motif batik yang unik. “Saya mencari batik untuk anak saya usia satu hingga dua tahun,” katanya.

Berbeda dengan kain tradisional lain, katanya, batik yang berbahan katun amat nyaman dipakai. “Modelnya juga trendi,” katanya.

Pemerintah Kota Batam bekerjasama dengan Avava Global Promotion Indonesia (AGPI) mempromosikan batik khas Pulau Jawa dalam pameran “The Legendcy of Indonesia Exotic.”

Sebanyak 18 unit Usaha Kecil Menengah (UKM) dari dalam dan luar Batam mengikuti pameran tersebut. Selain baju, dalam pameran yang sengaja digelar di mall yang berhubungan langsung dengan Pelabuhan Internasional Batam Centre itu, juga dipamerkan berbagai asesoris bermotif batik. (ANT)

Komentar (4) »

Tips memilih kain sutera sebagai bahan batik

Untuk menghasilkan batik sutera dengan kualitas terbaik tentunya membutuhkan kain sutera yang batik pula. Ada beberapa tips dalam menentukan kain sutera yang baik sebagai bahan batik:

  1. Anyaman kain adalah anyaman plat. (anyaman blaco)
  2. Kehalusan kain prima sampai primisima (rangkap 2 sampai 4 dari benang 16 cocoon)
  3. Lebar kain kurang lebih 105 cm (untuk kain tapih), 90 cm (untuk rok, baju dsb), 70 cm (untuk kain baju, rok) dan 50 cm (untuk selendang)
  4. Keadaan kain sutera sudah di-deguming (tingkatan souple silk). Karena dasar kain batik sering dibuat agak kuning, maka kiranya kain sutera yang hendak dibatik tidak perlu diputihkan dengan obat pemutih (perxyde dsb)
  5. Anyamannya cukup padat sehingga benang-benang dalam kain tidak bergeser bila kena tekanan atau tarikan .
  6. Karena proses pembuatan batik berhubungan dengan rendaman dalam air (basah), maka sebaiknya twist pada benang sutera jangan terlalu tinggi untuk menghindari mengkerutnya kain pada proses basah
  7. Benang yang ditenun diadakan seleksi agar kain terdapat satu jenis sutera sehingga pada pewarnaan tidak timbul belang-belang karena perbedaan penyerapan warna.

Batik sutera tidak selamanya berupa kain sutera murni, namun dapat dikombinasikan dengan cara ditenun menggunakan benang lain seperti tetoron katun atau acetat rayon. Bila terjadi campuran dan tidak diketahui maka akan timbul problema dalam proses pewarnaan

Komentar bertahan »

Sutera Alam ditinjau dari proses pembuatan batik

Secara umum proses pembuatan batik memiliki tiga macam proses utama yakni :

  1. Penempelan ilin batik pada kain baik secara tulis, cap maupun kuas. Lilin berfungsi sebagai resist (penutup) terhadap warna yang akan diberikan pada kain.
  2. Pemberian warna. Dapat diakukan dengan teknik celupan (deying) atau coletan (painting). Pemberian warna dilakukan tanpa pemanasan dan warna tidak hilang pada waktu penghiangan ilin batik.
  3. Menghilangkan kembali lilin batik dari kain, dapat diakukan dengan di kerok (dikerik) atau secara lorodan.

Tinjauan singkat sifat-sifat sutera terhadap proses pembatikan sebagai berikut :

  1. Penempelan lilin pada kain sutera. Liin batik ditempelkan pada kain dalam keadaan panas dan cair, seteleh menempel makan lilin akan dingin dan membeku. Ilin dapat menempel dengan baik pada kain. Pada kain sutera sendiri tidak terjadi perubahan sewaktu terkena lilin panas tidak seperti serat protein lain misalnya rambut yang jika terkena panas maka mengkerut.
  2. Pewarnaan Sutera secara proses batik. Kain yang sudah dilapisi liin maka dapat diwarnai dengan zat warna yang diinginkan. Pewarnaan dapat dikerjakan pada proses dingin dengan adanya lilin yang melekat maka menghidari terjadinya proses pelunturan warna pada bidang tertentu. Zat-zat pewarna yang biasa digunakan adaah indigosol, Rapid, soga ergan, soga croom dan soga dari tumbuh-tumbuhan (tegeran, tingi, jambal) dan indigosol. Pada prinsipnya semua zat warna batik dapat digunakan untuk mewarnai batik sutera namun karena proses penghilangan lilin pada kain sutera yang sedikit bermasalah maka sebaiknya menggunakan zat pewarna yang memiliki ketahanan yang kuat seperti cat indigosol, rapid, dan Napthol.
  3. Menghilangkan ilin pada batik. Pada batik berbahan katun proses penghilangan lilin dapat dilakukan dengan merendam keseluruhan pada air panas, proses ini disebut ”mlorod”(nglorod, ngebyok, mbabar). Sedaangkan bagi zat warna yang tidak tahan alkali maka pada air lorodan dicampur dengan kanji. Untuk batik sutera proses penghilangan lilin memiliki problema tersendiri. Lilin batik memiliki tendensi melekat lebih kuat pada kain sutera dari padakain katun. Untuk itu ada beberapa cara untuk menghilangkannya :
  1. Cara pelepasan dengan air panas alkali. Cara ini menggunakan lilin batik dengan campuran khusus untuk menghindarkan atau mengurangi bahan pokok lilin yang mengakibatkan sukar lepas (speperti lilin bekas, mata kucing dan paraffin kasar). Dalam air lorodan ditambahkan soda abu dan air lorodan akan menjadi alkalis (pada pH tidak lebih dari 9,5 atau soda abu tidak lebih dari 0,1%)
  2. Cara melarutkan lilin. Lilin dilarutkan dengan bensin. Lilin yang melekat pada kain akan larut dan kain pun menjadi bersih. Cara ini mudah akan tetapi banyak perusahan tidak menggunakan karena resiko kebakaran tinggi)
  3. Cara kombinasi antara pelepasan dan pelarutan. Ksin dimasukan dalam air lorodan yang kemudian dicampur dengan pelarut lilin seperti bensin, benzol, minyak tanah dalam bentuk emulsi sehingga dapat bercampur dengan air serta mengurangi resiko kebakaran. Cara ini pertama ditemukan pada seminar sutera alam pada tenggal 23-25 februari 1970.

Secara umum proses pembuatan batik sutera sama dengan batik pada umumnya namun yang berbeda adalah bagaimana proses penghilangan lilin. Namun berkembangnya waktu dan pengalaman hal tersebut tidak menjadi masalah yang sangat serius. Misalnya saja untuk melorodnya cukup dimasukan dalam air lorodan yang ditambah minyak tanah (2 cc/liter) dan teepol (0,5 cc/liter)

Komentar bertahan »