Oktober 10, 2009
· Disimpan dalam 1
Bila anda ingin melihat proses pembatikan motif klasik kraton Yogyakarta, datanglah ke Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri, sekitar 1 km di sebelah utara kompleks makam raja-raja Mataram. Di sana, masih tersisa sekitar 20 perajin batik yang rata-rata sudah berusia tua. “Motif-motif klasik yang masih dipertahankan antara lain motif sido asih, sido mulyo, sido mukti, sido luhur, truntum mangkoro, sri kuncoro, wahyu tumurun dan masih banyak lainnya,”tutur Bu Harti (58 tahun), koordinator perajin batik Bima Sakti, Giriloyo.
Komitmen untuk mempertahankan motif klasik kraton agaknya didengar oleh kerabat kasultanan. Bahkan bu Harti mendapat kepercayaan membuat kain batik untuk upacara adat kraton, yakni jumenengan (penobatan) KGPH Mangkubumi sebagai Sri Sultan HB X serta perkawinan agung rayi-rayi dalem (adik-adik Sri Sultan HB X). Pakaian kebesaran kraton yang dikerjakan bu Harti adalah kain Kampuh, panjang 5 meter, lebar 4 meter. Untuk 1 kain baru bisa selesai dikerjakan sekitar 3 bulan. Sejak 1988 sampai 1992, kraton Yogyakarta memesan kain kampuh motif semen gunung sebanyak 18 kain. Waktu itu, biaya pembuatan satu kain Rp 2 juta. Setelah tahun 1992 bu Harti terpaksa menolak pesanan kraton, karena tidak ada lagi perajin di Giriloyo yang sanggup membantu proses pembatikannya. Sementara, bu Harti sendiri penglihatannya sudah tidak jernih seperti dulu.
|
Ada satu peristiwa yang tak kan terlupakan sepanjang hayat. Ketika itu, seminggu setelah Sri Sultan HB IX mangkat, GBPH Prabukusumo – salah seorang putra HB IX datang menemuinya. Gusti Prabu membawa kain kampuh yang sudah koyak-koyak. Kain yang dibuat di jaman HB VII itu bekas alas peti jenazah HB IX. Gusti Prabu minta agar membuat pola dengan kertas, meniru kain kampuh tua motif semen gunung itu.
Bersama suaminya, Albani, pensiunan Brimob Kelapa Dua, bu Harti membuat coretan dengan pensil di atas kertas yang ditumpangkan pada kain yang sudah rusak itu. Tanpa ada pikiran apapun, suami isteri itu menggambar pola dengan menginjak kain itu. Sebab kalau tidak diinjak, tangannya tidak bisa menjangkau kain yang lebarnya 4 meter.
Sebelum mengakhiri pembuatan pola – setelah 3 hari dikerjakan – Pak Albani dan Bu Harti pingsan tanpa sebab. Padahal saat itu kondisi keduanya sehat wal’afiat. Orang se dusun geger. Nenek bu Harti berdoa sambil menyelipkan kalimat mohon ampun karena Albani – Harti terpaksa menginjak-injak kain disebabkan tangannya tidak mampu menjangkau sudut kain yang lain. Setelah itu, cucu dan cucu mantunya sadar dari pingsannya.GBPH Prabukusumo minta kepada bu Harti agar menyimpan dengan baik pola kampuh motif semen gunung itu. Dan wanti-wanti untuk tidak mengijinkan siapapun, termasuk kerabat kraton yang akan meminjam pola itu.
|
|
|
Oktober 6, 2009
· Disimpan dalam info batik
Asyiiik,,, akhirnya salah satu warisan budaya kita termasuk satu dari 76 seni yang telah diakui oleh United Nations Education Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Tetap pada 2 Oktober 2009 di Abudabi, Uni Emirat Arab sidang yang beranggotakan 24 negara selesai ditutup. Sidang yang berlangsung selama tiga hari telah melahirkan keputusan yang sangat bersejaarah bagi bangsa Indonesia hingga pemerintah pun menetapkan pada 2 oktober sebagai Hari Batik Nasional.
Kegembiraan ini turut dirasakan oleh segenap bangsa Indonesia terutama para seniman maupun pecinta batik tanah air. Tak hanya itu, petugas Polda Metro Jaya pun tampil berbeda bertepatan dengan momen bersejarah ini. Bapak Ibu Polisi ini bertugas menggunakan seragam batik.Polisi berbatik terlihat di gedung Satuan Administrasi Satu Atap (Samsat) di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan (Jaksel). Petugas dari Dispenda, Jasa Raharja, serta personel polisi yang memberikan pelayanan untuk pembayaran pajak, mutasi, dan perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) terlihat kompak mengenakan baju batik.
Kegembiraan mengenai ditetapkannya batik sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh UNESCO dirasakan pula oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk berbusana batik pada hari yang sangat bersejarah ini. Hal serupa pun turut dirasakan oleh pemerintah DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengeluarkan Instruksi Gubernur No 136 Tahun 2009 tentang Pemakaian Baju Batik pada 2 Oktober 2009 dan Seruan Gubernur No 9 Tahun 2009 Kepada Masyarakat Jakarta (tentang hal yang sama). Instruksi dan Seruan Gubernur DKI itu disampaikan Deputi Gubernur bidang Kebudayaan dan Pariwisata, Aurora Tambunan.
Tak kalah seru, beberapa objek wisata ternama di Indonesia turut merayakan kegembiraannya. Taman impian jaya Ancol memberikan dison sebesar 60% kepada pengunjungnya yang menggunakan batik mulai 5-9 oktober 2009 serta mengadakan Bazar Batik bekerjasama dengan Yayasan Batik Indonesia di Pasar Seni dan Dunia Fantasi. Kemudian Taman Mini Indonesia Indah juga memberikan potongan harga sebesar 50% kepada pengunjungnya yang mengenakan batik pada 2 oktober 2009.
Di Botani Square Bogor, pada 3 oktober 2009 dalam acara Pameran Etnik dan Budaya disediakan puluhan kain batik dan canting untuk workshop batik, para pengunjung bisa melukis secara gratis sejak pukul 14.00 sampai Sore. Peserta didominasi oleh para pelajar.
wow!! semuanya pake batik,, jalan-jalan pake batik, bisa dapet diskon, kapan ya kalo misal pake batik terus bebas tilang di jalan,,, he33,,
Oktober 2, 2009
· Disimpan dalam 1
fuiih,,
akhirnya setelah sekian lama offline, kini saya kembali mendapatkan kesempatan untuk mulai menulis kembali dan berbagi pengetahuan tentang batik di rubrik ini. Masih dalam moment bulan syawal, saya mewakilan blog cantingbatik mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H bagi yang merayakan. Taqoballah wa minna waminkum,, Minal Aidzin Walfaizdin,, Mohon maaf lahir batin, mungkin kiranya banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab,, Pada kesempatan yang berbahagia ini, tepatnya pada Jumat, 2 oktober 2009 yang bertepatan pula dengan Hari Batik Nasional website ini akan kembali diaktifkan untuk sekedar saling bertukar pengetahuan dan informasi tentang warisan budaya kita. Tampaknya kegembiraan saya tak pernah berhenti, kenapa? Karena tepat tanggal ini, UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia (Intagible Culture Heritage) dari Indonesia. Batik akan menjadi warisan ketiga Indonesia yang terdaftar dalam UNESCO setelah wayang yang menjadi warisan budaya dunia pada tahun 2003 dan keris pada tahun 2005. woow!! mak jang!! akhirnya kita dapat menyelamatkan batik dari beragam klaim negara asing! Dengan demikian pula, sudah semakin jelas batik merupakan karya seni warisan Indonesia. Batik tidak hanya sekedar titik yang dalam sastra Jawa disebut tik, namun jika kita mau mendalami lebih dalam makna dari sebuah titik tersebut kita akan memahami betapa pentingnya titik tersebut. Titik merupakan awal dari sesuatu yang lebih besar. Seandainya kita ingin menulis nama kita tentu yang akan kita buat awal adalah sebuah titik yang memudian diteruskan menjadi sebuah atau beberapa karakter huruf nama kita. Begitu pula suatu benda, ia tersusun dari suatu materi kecil yang disebut dengan atom atau partikel terkecil di dunia. Begitu pula dengan batik. Dengan telah ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, semoga dapat terus berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar dan memberikan manfaat besar. Terutama bagi masyarakat Indonesia dan internasional. Batik merupakan icon nasional, dengan semakin berkembangnya batik turut mengangkat nama baik bangsa dan negara di mata internasional dan menjadika bangsa indonesia sebagai bangsa yang besar. Mari kita dukung dan kembangkan bersama salah satu identitas nasional kita. Karena bangsa kita buka bangsa yang anonim ataupun hanya bangsa pengikut maupun pencuri identitas. Kita memiliki indetitas yang sudah internasional. Buat generasi kita maupun generasi penerus menjadi semakin bangga menjadi bangsa Indonesia. Hidup Batik indonesia!!!